Pramono Mau Terbitkan Obligasi Jakarta Rp5,6 Triliun

maurozijlstra – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kembali mendorong rencana penerbitan obligasi daerah untuk membiayai pembangunan ibu kota. Nilainya bukan lagi sekadar ratusan miliar rupiah, melainkan mencapai Rp5,6 triliun dalam usulan pembiayaan yang dibahas untuk 2027 dan tahap berikutnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut obligasi sebagai terobosan pembiayaan kreatif. Dana yang diperoleh direncanakan mendukung proyek transportasi publik, rumah sakit, dan berbagai fasilitas pelayanan masyarakat.

Namun, di balik istilah creative financing yang terdengar modern, ada persoalan yang tidak boleh disembunyikan: obligasi tetap merupakan utang. Dana yang dihimpun dari investor harus dikembalikan, disertai pembayaran bunga atau kupon sesuai ketentuan penerbitannya.

Pertanyaannya, mengapa pemerintah provinsi dengan kapasitas fiskal sebesar Jakarta merasa perlu menambah kewajiban pembiayaan baru?

Apakah APBD yang tersedia memang tidak mencukupi untuk mendukung pembangunan prioritas? Atau pemerintah sedang mencari jalan mempercepat proyek tanpa terlebih dahulu membuktikan bahwa seluruh belanja yang ada sudah digunakan secara efisien?

Pertanyaan tersebut semakin relevan setelah Pramono bertemu Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada 27 Oktober 2026. Pertemuan itu membahas sejumlah persoalan fiskal Jakarta, termasuk dana bagi hasil dan rencana penerbitan obligasi.

Meski demikian, hingga informasi terakhir yang tersedia pada 30 Oktober 2026, penerbitan obligasi tersebut belum dipastikan. Pramono menyatakan Pemprov DKI akan mengikuti keputusan pemerintah pusat. Bisnis.com+1

Rencana ini tidak perlu langsung dianggap buruk. Banyak pemerintah menggunakan pembiayaan utang untuk membangun infrastruktur yang manfaatnya dapat dinikmati selama puluhan tahun.

Tetapi utang publik harus diuji dengan standar yang lebih tinggi daripada sekadar keyakinan pejabat bahwa daerah mampu membayar.

Jakarta membutuhkan transportasi yang lebih baik, fasilitas kesehatan yang memadai, sekolah berkualitas, dan pengendalian banjir yang efektif. Namun, kebutuhan pembangunan yang besar tidak otomatis membenarkan setiap keputusan menambah utang.

Pramono Terbitkan Obligasi Jakarta, Nilainya Berubah dari Rp3,5 Triliun Menjadi Rp5,6 Triliun

Rencana penerbitan obligasi daerah sebenarnya telah diumumkan sejak pertengahan 2026.

Pada Juni dan Juli, Pramono menyampaikan target penerbitan obligasi sebesar Rp3,5 triliun. Pemerintah provinsi menginginkan penerbitan berlangsung pada Juni 2027, bertepatan dengan peringatan 500 tahun Kota Jakarta.

Obligasi tersebut dirancang memiliki tenor maksimal tujuh tahun, sedangkan tingkat kupon akan ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan saat penerbitan.

Dana yang diperoleh direncanakan membiayai proyek LRT, rumah sakit, sekolah, rumah susun, serta infrastruktur pengendalian banjir. Jakarta

Namun, nilai rencana pembiayaan kemudian meningkat.

Pada Agustus 2026, Pramono mengungkap kenaikan kebutuhan menjadi sekitar Rp5,2 triliun karena tambahan pendanaan untuk pengembangan LRT.

Dalam perkembangan berikutnya, pembahasan pembiayaan mencapai Rp5,6 triliun, dengan rencana penerbitan secara bertahap pada 2027 dan 2028. detiknews+1

Kenaikan Nilai Obligasi Harus Dijelaskan secara Terbuka

Perubahan rencana dari Rp3,5 triliun menjadi Rp5,6 triliun berarti terdapat tambahan kebutuhan pembiayaan sebesar Rp2,1 triliun, atau sekitar 60 persen dari rencana awal.

Kenaikan tersebut tidak otomatis membuktikan pemborosan. Penyesuaian ruang lingkup proyek, kebutuhan infrastruktur, dan tahapan pembangunan memang dapat mengubah kebutuhan dana.

Namun, kenaikan sebesar itu membutuhkan penjelasan terperinci.

Masyarakat berhak mengetahui proyek mana yang mengalami penambahan anggaran, apa penyebabnya, serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kemampuan pembayaran utang.

Jika kebutuhan pembiayaan dapat berubah dalam hitungan bulan, pemerintah harus memastikan bahwa perencanaan proyek sudah cukup matang sebelum menawarkan obligasi kepada investor.

Jangan Sampai Ulang Tahun Jakarta Menjadi Alasan Mengejar Penerbitan

Pramono mengaitkan target penerbitan obligasi dengan momentum lima abad Jakarta pada Juni 2027.

Secara politik, momentum tersebut memang menarik. Pemerintah dapat menjadikannya simbol perubahan cara pembiayaan pembangunan kota.

Namun, pasar keuangan tidak bekerja berdasarkan kalender perayaan.

Penerbitan obligasi harus ditentukan oleh kesiapan dokumen, kelayakan proyek, kemampuan fiskal, kondisi pasar, dan persetujuan otoritas.

Jika persiapan belum memenuhi standar, menunda penerbitan jauh lebih bertanggung jawab daripada memaksakan transaksi demi sebuah tonggak sejarah.

Jakarta tidak membutuhkan simbol keberhasilan yang dibayar dengan kewajiban jangka panjang tanpa perhitungan matang.

APBD Jakarta Besar, Mengapa Pramono Masih Ingin Berutang?

Salah satu kritik paling menarik terhadap rencana obligasi datang dari mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Pada Juli 2026, Purbaya mempertanyakan urgensi penerbitan obligasi daerah karena menilai Jakarta memiliki kapasitas anggaran yang besar dan masih terdapat dana yang belum dimanfaatkan.

Ia tidak menyatakan bahwa obligasi daerah selalu berbahaya. Justru, ia mengakui daerah dengan pengelolaan fiskal kredibel dapat memiliki risiko pembiayaan yang lebih rendah.

Namun, menurutnya, pemerintah tetap harus menjelaskan alasan mencari sumber utang baru ketika masih terdapat ruang anggaran yang dapat digunakan. Bisnis.com

Uang Banyak Bukan Berarti Semua Bisa Langsung Dibelanjakan

Kritik terhadap obligasi perlu tetap mempertimbangkan karakter APBD.

Tidak semua dana pemerintah daerah tersedia secara bebas untuk membiayai proyek baru. Sebagian anggaran memiliki peruntukan tertentu, terikat kontrak, atau diperlukan untuk menjaga likuiditas operasional.

Karena itu, besarnya APBD saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Jakarta tidak membutuhkan pembiayaan alternatif.

Namun, pemerintah provinsi juga tidak boleh menggunakan kompleksitas anggaran sebagai alasan menghindari keterbukaan.

Pemprov DKI perlu menjelaskan posisi kas, kebutuhan belanja wajib, dana yang telah terikat, serta kemampuan pembiayaan pembangunan tanpa obligasi.

Perbandingan antara skenario menggunakan APBD dan menggunakan obligasi harus tersedia sebelum keputusan penerbitan diambil.

Creative Financing Tidak Mengubah Utang Menjadi Pendapatan

Istilah pembiayaan kreatif sering terdengar seperti solusi tanpa konsekuensi.

Padahal, obligasi bukan pendapatan daerah yang dapat digunakan tanpa kewajiban pengembalian.

Ketika investor membeli obligasi, pemerintah menerima dana sekarang dengan kewajiban membayar kupon dan pokok sesuai jadwal.

Manfaatnya adalah pemerintah dapat mempercepat pembangunan tanpa harus menunggu seluruh kebutuhan dana tersedia dari penerimaan tahun berjalan.

Namun, konsekuensinya adalah sebagian kapasitas fiskal masa depan harus dialokasikan untuk pembayaran kewajiban tersebut.

Pemerintah perlu berhenti memperlakukan kata kreatif sebagai pengganti penjelasan tentang risiko.

Obligasi Jakarta Rp5,6 Triliun untuk LRT dan Rumah Sakit, Apakah Proyeknya Layak?

Pramono menyatakan obligasi daerah akan digunakan untuk proyek yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Pengembangan LRT Jakarta, pembangunan fasilitas kesehatan, sekolah, rumah susun, dan pengendalian banjir termasuk agenda yang disampaikan pemerintah provinsi.

Secara prinsip, penggunaan utang untuk membiayai infrastruktur berumur panjang dapat dibenarkan.

Namun, kelayakan pembiayaan tidak hanya ditentukan oleh pentingnya suatu proyek.

Pemerintah harus menghitung biaya pembangunan, manfaat sosial, kebutuhan operasional, serta risiko keterlambatan dan pembengkakan anggaran.

LRT Jakarta Membutuhkan Perhitungan Penumpang dan Subsidi

Pengembangan transportasi publik merupakan kebutuhan penting Jakarta.

Kemacetan menyebabkan pemborosan waktu, konsumsi bahan bakar, dan penurunan produktivitas masyarakat.

LRT dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi apabila jaringan, tarif, dan integrasinya dirancang dengan baik.

Namun, pembangunan jalur baru tidak otomatis menjamin jumlah penumpang sesuai target.

Pemprov DKI perlu menjelaskan proyeksi pengguna, kebutuhan subsidi operasional, serta integrasi dengan MRT, Transjakarta, KRL, dan moda transportasi lainnya.

Jika proyek membutuhkan subsidi dalam jangka panjang, kewajiban tersebut harus dihitung bersama pembayaran obligasi.

Jangan sampai pemerintah hanya menampilkan biaya pembangunan, sementara kebutuhan operasional masa depan kurang mendapat perhatian.

Rumah Sakit dan Sekolah Tidak Selalu Menghasilkan Pendapatan Langsung

Pembangunan rumah sakit dan sekolah memiliki manfaat sosial yang besar.

Namun, fasilitas pelayanan publik tidak selalu menghasilkan pendapatan komersial yang cukup untuk membayar utang secara langsung.

Kondisi ini tidak berarti proyek tersebut tidak layak dibiayai obligasi.

Pemerintah daerah dapat membayar kewajiban dari kapasitas fiskalnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Tetapi kemampuan membayar harus dibuktikan melalui proyeksi pendapatan dan pengeluaran yang realistis.

Manfaat sosial suatu proyek perlu dinilai secara terpisah dari kemampuan fiskal untuk melunasi pembiayaannya.

Jika dua persoalan tersebut dicampuradukkan, risiko keuangan dapat tersembunyi di balik tujuan pembangunan yang terlihat mulia.

Purbaya Pernah Mengingatkan Risiko Obligasi Daerah, Pramono Tetap Ingin Melanjutkan

Perdebatan obligasi Jakarta tidak hanya memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai pembiayaan pembangunan, tetapi juga menunjukkan ketegangan antara kebutuhan pemerintah daerah dan kehati-hatian fiskal pemerintah pusat.

Pada September 2026, Purbaya mengingatkan bahwa penerbitan obligasi daerah harus dilakukan dengan pengawasan ketat. Ia menyoroti risiko ketika pemerintah daerah gagal memenuhi kewajibannya sehingga persoalan pembiayaan dapat menimbulkan tekanan terhadap pemerintah pusat.

Purbaya bahkan menggunakan pengalaman Brasil dan Argentina sebagai peringatan mengenai bahaya pengelolaan utang daerah yang tidak terkendali. Perbandingan tersebut merupakan peringatan risiko, bukan bukti bahwa kondisi Jakarta sama dengan kedua negara itu. ANTARA News

Pramono menanggapi dengan menyatakan bahwa Jakarta membutuhkan dana untuk membiayai banyak proyek pembangunan.

Ia juga mengaitkan kebutuhan pembiayaan dengan persoalan dana bagi hasil dari pemerintah pusat.

Dana Bagi Hasil Berkurang, Utang Jadi Jalan Keluar?

Dana bagi hasil merupakan bagian dari hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Perubahan penerimaan dari sumber tersebut dapat memengaruhi ruang fiskal daerah, terutama apabila pemerintah telah memiliki rencana belanja jangka menengah.

Namun, berkurangnya dana bagi hasil tidak otomatis berarti pemerintah daerah harus menerbitkan obligasi.

Pemprov DKI perlu terlebih dahulu menunjukkan berapa besar kekurangan pembiayaan yang benar-benar terjadi, bagaimana belanja telah diprioritaskan, serta apakah tersedia sumber pembiayaan lain dengan biaya lebih rendah.

Utang seharusnya menjadi keputusan berdasarkan perbandingan biaya dan manfaat, bukan respons otomatis terhadap berkurangnya transfer fiskal.

Pemerintah Pusat Juga Harus Konsisten

Di sisi lain, pemerintah pusat tidak cukup hanya meminta daerah berhati-hati.

Jika pemerintah pusat mengurangi ruang fiskal daerah sekaligus mengharapkan pembangunan infrastruktur tetap berjalan, perlu ada kejelasan mengenai pembagian tanggung jawab pembiayaan.

Jakarta memiliki kebutuhan pembangunan yang tidak kecil, termasuk pelayanan bagi penduduk dan masyarakat yang beraktivitas dari wilayah penyangga.

Karena itu, perdebatan antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI harus menghasilkan solusi pembiayaan yang rasional, bukan sekadar saling mempertahankan posisi.

Berapa Bunga Obligasi Jakarta dan Siapa yang Akan Membayarnya?

Salah satu persoalan terpenting dalam rencana Pramono terbitkan obligasi Jakarta adalah biaya bunga.

Hingga informasi yang tersedia pada 30 Oktober 2026, tingkat kupon final belum ditetapkan karena penerbitan belum terlaksana.

Pemprov DKI sebelumnya menyampaikan bahwa kupon akan mempertimbangkan kondisi pasar saat obligasi diterbitkan.

Untuk memahami konsekuensinya, berikut simulasi sederhana apabila seluruh Rp5,6 triliun diterbitkan dengan tingkat kupon tetap.

Asumsi kupon tahunanEstimasi bunga per tahun
5%Rp280 miliar
6%Rp336 miliar
7%Rp392 miliar
8%Rp448 miliar

Simulasi ilustratif, bukan penawaran resmi obligasi Jakarta. Perhitungan mengasumsikan seluruh pokok Rp5,6 triliun beredar selama satu tahun, belum memperhitungkan biaya penerbitan, pelunasan bertahap, dan perubahan struktur pembiayaan.

Pada tingkat kupon 7 persen, misalnya, pembayaran bunga dapat mencapai Rp392 miliar setahun apabila seluruh pokok masih beredar.

Jika seluruh pokok tetap beredar selama tujuh tahun dengan kupon yang sama, total bunga secara sederhana mencapai Rp2,744 triliun, di luar pengembalian pokok Rp5,6 triliun.

Angka tersebut bukan perkiraan biaya resmi, melainkan ilustrasi untuk menunjukkan mengapa struktur obligasi harus diperiksa secara serius.

Beban Obligasi Tidak Berhenti Ketika Proyek Selesai

Infrastruktur dapat selesai dibangun dalam beberapa tahun, tetapi kewajiban pembayaran obligasi tetap berlangsung sesuai jadwal.

Pemerintah berikutnya dapat mewarisi kewajiban tersebut.

Inilah sebabnya keputusan berutang harus mempertimbangkan kesinambungan fiskal lintas masa jabatan.

Pramono mungkin dapat memulai pembangunan, tetapi pembayaran kewajiban dapat berlangsung ketika kepemimpinan daerah telah berganti.

Karena itu, penerbitan obligasi tidak boleh hanya dinilai berdasarkan manfaat politik jangka pendek.

Apakah Obligasi Daerah Bisa Membebani Pajak Warga Jakarta?

Obligasi tidak otomatis menyebabkan kenaikan pajak daerah.

Namun, pembayaran bunga dan pokok tetap membutuhkan sumber dana yang sah.

Apabila penerimaan daerah tidak tumbuh sesuai perkiraan, pemerintah dapat menghadapi tekanan untuk menyesuaikan pengeluaran, mencari tambahan penerimaan, atau mengubah prioritas fiskal.

Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut berpotensi memengaruhi ruang belanja pelayanan publik.

Karena itu, warga Jakarta memiliki kepentingan langsung terhadap keputusan penerbitan obligasi.

Jangan Sampai Proyek Hari Ini Mengorbankan Pelayanan Besok

Pemerintah harus memastikan pembayaran utang tidak mengganggu belanja pendidikan, kesehatan, transportasi, pengendalian banjir, dan pelayanan dasar lainnya.

Kemampuan membayar tidak cukup dibuktikan hanya dengan membandingkan nilai obligasi terhadap besarnya APBD.

Pemerintah perlu menyusun proyeksi arus kas, menguji skenario penurunan penerimaan, serta menghitung seluruh kewajiban fiskal yang sudah ada.

Jika kemampuan membayar hanya bergantung pada asumsi pertumbuhan pendapatan yang terlalu optimistis, risiko pembiayaan dapat meningkat.

DPRD Jakarta Jangan Hanya Menjadi Pemberi Persetujuan

DPRD DKI Jakarta memiliki peran penting dalam memastikan rencana pembiayaan benar-benar melayani kepentingan publik.

Dukungan politik terhadap pembangunan tidak boleh menghilangkan kewajiban memeriksa kelayakan utang.

DPRD perlu menilai dokumen proyek, proyeksi pembayaran, risiko fiskal, serta mekanisme pengawasan penggunaan dana.

Persetujuan terhadap obligasi seharusnya diberikan setelah pertanyaan mendasar terjawab.

Jika pengawasan hanya berakhir pada rapat dan pernyataan dukungan, masyarakat kehilangan salah satu mekanisme penting untuk mengendalikan risiko keuangan daerah.

Pramono Terbitkan Obligasi Jakarta, Inovasi Pembiayaan atau Jalan Pintas Menambah Utang?

Obligasi daerah bukan instrumen yang harus ditolak dalam semua keadaan.

Banyak proyek infrastruktur memiliki manfaat jangka panjang sehingga pembiayaan melalui utang dapat menjadi pilihan rasional.

Namun, penggunaan obligasi baru layak dipertimbangkan setelah pemerintah membuktikan bahwa proyeknya penting, biaya pembiayaannya kompetitif, dan kemampuan pembayaran dapat dipertanggungjawabkan.

Jakarta memiliki kapasitas ekonomi besar, tetapi ukuran ekonomi bukan jaminan bahwa seluruh keputusan fiskal akan berhasil.

Pemerintah harus membandingkan obligasi dengan alternatif lain, termasuk penggunaan ruang APBD yang tersedia, pembiayaan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur, dan kerja sama pembangunan yang sesuai ketentuan.

Setiap alternatif memiliki biaya, risiko, dan konsekuensi berbeda.

Transparansi Harus Dimulai Sebelum Obligasi Dijual

Jika Pramono ingin menjadikan Jakarta pelopor penerbitan obligasi daerah, standar keterbukaan harus diperkuat sejak tahap persiapan.

Pemprov DKI sebaiknya mempublikasikan studi kelayakan, rincian penggunaan dana, perkiraan biaya pembiayaan, jadwal pembayaran, dan analisis risiko.

Publik juga perlu mengetahui bagaimana hasil pembangunan akan dievaluasi.

Apakah proyek selesai tepat waktu? Apakah biaya sesuai rencana? Apakah fasilitas digunakan secara optimal? Apakah manfaat sosial sebanding dengan beban fiskal?

Tanpa indikator tersebut, obligasi hanya akan menjadi cara baru memperoleh dana dengan persoalan akuntabilitas yang tetap lama.

Tajuk: Pramono Jangan Bangga Bisa Berutang, Buktikan Dulu Jakarta Memang Membutuhkannya

Rencana Pramono menerbitkan obligasi Jakarta senilai Rp5,6 triliun merupakan keputusan besar yang membutuhkan pemeriksaan lebih serius daripada sekadar dukungan terhadap pembangunan.

Tidak ada yang keliru dengan keinginan memperluas transportasi publik, membangun rumah sakit, memperbaiki sekolah, atau memperkuat pengendalian banjir.

Persoalannya adalah bagaimana seluruh kebutuhan tersebut dibiayai dan siapa yang menanggung konsekuensinya.

Pemerintah tidak boleh menjadikan istilah pembiayaan kreatif sebagai kemasan menarik untuk menghindari pembahasan mengenai utang.

Begitu pula kritik terhadap obligasi tidak boleh berhenti pada anggapan bahwa seluruh utang pemerintah pasti buruk.

Ukuran yang benar adalah kebutuhan, kelayakan, efisiensi, dan kemampuan pembayaran.

Pramono perlu menjawab mengapa nilai rencana obligasi meningkat dari Rp3,5 triliun menjadi Rp5,6 triliun, bagaimana dana akan dibagi untuk setiap proyek, dan mengapa skema obligasi dianggap lebih tepat dibandingkan alternatif pembiayaan lainnya.

Pemerintah pusat juga harus memberikan keputusan berdasarkan penilaian objektif, bukan tarik-menarik kepentingan politik.

Jika obligasi terbukti mampu mempercepat pembangunan dengan risiko yang terukur, penerbitannya dapat menjadi inovasi penting bagi pembiayaan daerah.

Namun, jika kebutuhan utang belum dapat dijelaskan secara transparan, pemerintah seharusnya tidak terburu-buru menambah kewajiban fiskal.

Jakarta tidak membutuhkan prestasi simbolis berupa keberhasilan menjual obligasi pertama. Jakarta membutuhkan proyek yang selesai, fasilitas yang berfungsi, dan pelayanan publik yang membaik.

Keberhasilan seorang gubernur bukan diukur dari seberapa besar utang yang berhasil diterbitkan, melainkan dari seberapa besar manfaat pembangunan yang diterima rakyat tanpa membebani keuangan daerah secara tidak perlu.

Referensi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (21 Juli 2026). Perkuat Pembangunan Jakarta, Gubernur Pramono Targetkan Penerbitan Obligasi Daerah Rp3,5 Triliun pada 2027.
Baca siaran pers resmi Pemprov DKI Jakarta

ANTARA News (26 Oktober 2026). Gubernur DKI Akan Temui Menteri Keuangan, Bahas Penerbitan Obligasi Jakarta.
Baca laporan ANTARA

Bisnis.com (28 Oktober 2026). Pramono Ungkap Pertemuan dengan Menkeu Suahasil, Ada Obligasi hingga DBH.
Baca laporan pertemuan Pramono dan Menteri Keuangan

Bisnis.com (26 Oktober 2026). Pramono Bakal Bertemu Menkeu Suahasil Bahas Obligasi Jakarta.
Baca perkembangan rencana obligasi Rp5,6 triliun

ANTARA News (4 September 2026). Tanggapi Imbauan Purbaya, Pramono Tetap Terbitkan Obligasi Daerah.
Baca tanggapan Pramono dan peringatan Purbaya

detikNews (5 Agustus 2026). Pramono Akan Tambah Obligasi Jakarta Jadi Rp5,2 T, Biayai LRT dan RS.
Baca laporan perubahan nilai rencana obligasi

BeritaJakarta (30 September 2026). Soal Obligasi Daerah, Pramono Ikuti Arahan Pusat.
Baca keterangan resmi pemerintah daerah

  • Related Posts

    TKA SMA Terkendala Jaringan, Sesi Khusus 30 Oktober 2026

    Ringkasan: TKA SMA/SMK/MA/MAK pada Selasa, 27 Oktober 2026, sempat terkendala jaringan di sesi 1 hari kedua. Kemendikdasmen menyediakan sesi khusus Jumat, 30 Oktober 2026, mulai pukul 07.00 WIB, bagi murid…

    Ternyata Mu’ti Khawatir Murid Kehilangan Motivasi Jika Naik Otomatis

    Ringkasan: Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebut banyak murid mengikuti “rumus RMS”, yaitu rajin malas sama saja. Karena itu, kenaikan kelas otomatis dipertimbangkan untuk diakhiri mulai tahun ajaran 2027. Ini masih wacana…

    You Missed

    Pramono Mau Terbitkan Obligasi Jakarta Rp5,6 Triliun

    Pramono Mau Terbitkan Obligasi Jakarta Rp5,6 Triliun

    TKA SMA Terkendala Jaringan, Sesi Khusus 30 Oktober 2026

    TKA SMA Terkendala Jaringan, Sesi Khusus 30 Oktober 2026

    Ternyata Mu’ti Khawatir Murid Kehilangan Motivasi Jika Naik Otomatis

    Ternyata Mu’ti Khawatir Murid Kehilangan Motivasi Jika Naik Otomatis

    Membaca 15 Menit Sehari Terbukti Tajamkan Daya Ingat, Ini Faktanya

    Membaca 15 Menit Sehari Terbukti Tajamkan Daya Ingat, Ini Faktanya

    Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

    Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi