Faktanya, Cuma 3 Prinsip Deep Learning dari Mindful hingga Joyful


Ringkasan: Deep Learning versi Kemendikdasmen bukan kurikulum baru. Ia berdiri di atas tiga prinsip: Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning. Ketiganya sudah punya dasar hukum di Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.

Apa itu Deep Learning Mindful, Meaningful, Joyful?

Siswa menyusun peta konsep untuk memahami materi secara mendalam dalam pendekatan deep learning.

Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara utuh, bukan hafalan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut pendekatan ini tercapai lewat tiga elemen: Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.

Mengapa Tiga Prinsip Ini Penting di Tahun Ajaran 2025/2026?

Dokumen resmi Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 sebagai payung hukum pendekatan deep learning.

Deep Learning lahir dari kegelisahan yang sama di banyak sekolah. Siswa hafal rumus tapi tidak paham konsepnya. Guru mengejar target materi, bukan pemahaman.

Kemendikdasmen menyampaikan hal ini dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI pada 2024. Abdul Mu’ti menegaskan Deep Learning bukan pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan pendekatan pembelajaran yang berjalan di atasnya.

Dasar hukumnya sudah jelas per pertengahan 2025. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 — perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 — resmi menjadikan pendekatan ini bagian dari kebijakan kurikulum nasional.

Regulasi ini tidak mengganti kurikulum. Satuan pendidikan pada tahun ajaran 2025/2026 tetap memakai Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Deep Learning menempel di atas keduanya, sebagai cara mengajar, bukan struktur mata pelajaran baru.

Yang berubah adalah profil lulusan. Permendikdasmen 13/2025 memperbarui enam dimensi Profil Pelajar Pancasila menjadi delapan dimensi Profil Lulusan. Perubahan ini beriringan dengan dua aturan lain: Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendikdasmen Nomor 12 tentang Standar Isi.

Tiga Prinsip Deep Learning: Meaningful, Mindful, Joyful

Tiga kubus kayu melambangkan pilar Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.
PrinsipFokus UtamaLandasan TeoriContoh di Kelas
Meaningful LearningMengaitkan konsep baru dengan yang sudah dipahami siswaTeori David AusubelGuru mengaitkan pecahan matematika dengan berbagi makanan sehari-hari
Mindful LearningSiswa jadi agen aktif yang sadar mengembangkan pemahamanRefleksi dan kesadaran diri (self-regulated learning)Siswa distimulasi masalah kontekstual, diarahkan menyelesaikannya secara kreatif
Joyful LearningSuasana belajar positif yang membuat siswa termotivasiMotivasi intrinsik, belajar sambil bermainKuis tim, proyek seni, simulasi berbasis permainan

Ketiga prinsip ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Guru bagi menjelaskan bahwa menggabungkan meaningful, mindful, dan joyful learning menciptakan pengalaman belajar yang utuh — bukan tiga metode terpisah yang dipilih bergantian.

8 Dimensi Profil Lulusan yang Menjadi Target Akhir

Poster delapan dimensi profil lulusan Permendikdasmen 13/2025 di perpustakaan sekolah.

Ketiga prinsip di atas adalah caranya. Delapan dimensi profil lulusan adalah tujuan akhirnya. Berikut kedelapan dimensi menurut penjelasan Kemendikdasmen:

  1. Keimanan dan ketakwaan — nilai spiritual yang tercermin dalam akhlak sehari-hari.
  2. Kewargaan — cinta tanah air, taat aturan, peduli isu sosial dan lingkungan.
  3. Penalaran kritis — berpikir logis, analitis, dan reflektif dalam memecahkan masalah.
  4. Kreativitas — berpikir inovatif dan fleksibel, menghasilkan karya bermanfaat.
  5. Kolaborasi — bekerja sama secara efektif dalam kelompok.
  6. Kemandirian — mengatur diri dan bertanggung jawab atas proses belajar sendiri.
  7. Kesehatan — sehat jasmani dan rohani, menjaga keseimbangan hidup.
  8. Komunikasi — menyampaikan gagasan secara lisan dan tulisan, serta mendengarkan dengan baik.

Delapan dimensi ini adalah pengembangan dari enam dimensi Profil Pelajar Pancasila sebelumnya.

Cara Menerapkan Deep Learning di Kelas — Step by Step

  1. Mulai dari pemetaan konsep lama: Sebelum mengajar materi baru, cari tahu apa yang sudah dipahami siswa. Ini fondasi Meaningful Learning.
  2. Bangun konteks nyata: Kaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari siswa, bukan contoh abstrak dari buku teks.
  3. Beri ruang refleksi: Sisipkan sesi singkat untuk siswa menilai sendiri sejauh mana mereka paham. Ini inti Mindful Learning.
  4. Rancang aktivitas kontekstual: Gunakan masalah nyata yang perlu dipecahkan secara kreatif, bukan soal hafalan.
  5. Masukkan elemen permainan: Kuis tim, tantangan berpoin, atau proyek kreatif untuk menghidupkan Joyful Learning.
  6. Evaluasi bukan cuma nilai akhir: Amati proses berpikir siswa, bukan hanya jawaban benar-salah.
  7. Selaraskan dengan delapan dimensi: Cek apakah aktivitas kelas menyentuh lebih dari satu dimensi profil lulusan sekaligus.

Kesalahan Umum Saat Menerapkan Deep Learning

  • Menyamakan dengan kurikulum baru. Deep Learning adalah pendekatan mengajar, bukan pengganti Kurikulum Merdeka atau Kurikulum 2013.
  • Joyful Learning disalahartikan sebagai “yang penting seru”. Tanpa keterkaitan dengan Meaningful dan Mindful Learning, aktivitas seru bisa kehilangan tujuan pembelajaran.
  • Mindful Learning dianggap sekadar hening sejenak. Intinya adalah kesadaran aktif siswa mengelola proses belajarnya sendiri, bukan sekadar jeda tenang.
  • Menunggu perubahan struktur mata pelajaran. Permendikdasmen 13/2025 menegaskan total alokasi waktu mata pelajaran tidak berubah signifikan — perubahan ada di pendekatan mengajarnya.

Baca Juga Djarum Beasiswa Plus 2026/2027 Resmi Dibuka, Cek Syarat dan Tahapan Seleksinya

FAQ — Deep Learning Mindful, Meaningful, Joyful

Apa itu Deep Learning menurut Kemendikdasmen?

Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam lewat tiga elemen: Meaningful, Mindful, dan Joyful Learning. Bukan kurikulum baru, melainkan cara mengajar di atas kurikulum yang sudah berjalan.

Apakah Deep Learning mengganti Kurikulum Merdeka?

Tidak. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 menegaskan satuan pendidikan tahun ajaran 2025/2026 tetap memakai Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Deep Learning adalah pendekatan tambahan, bukan pengganti struktur kurikulum.

Bagaimana cara memulai penerapan Deep Learning di kelas?

Mulai dari memetakan pemahaman awal siswa (Meaningful), memberi ruang refleksi aktif (Mindful), lalu menambahkan elemen permainan atau proyek kreatif (Joyful). Selaraskan aktivitas dengan delapan dimensi profil lulusan.


  • Related Posts

    Membaca 15 Menit Sehari Terbukti Tajamkan Daya Ingat, Ini Faktanya

    Ringkasan: Riset memang menghubungkan kebiasaan membaca dengan kemampuan kognitif yang lebih baik. Tetapi hubungan itu tidak sama dengan bukti bahwa 15 menit sehari menajamkan ingatan. Yang paling kuat terbukti justru…

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi

    Ringkasan: Skor literasi membaca Indonesia dalam PISA 2022 berada di 359 poin — terendah sejak tahun 2000. Perpustakaan sekolah, sebagai pintu masuk utama anak pada bahan bacaan, menjadi salah satu…

    You Missed

    Ternyata Mu’ti Khawatir Murid Kehilangan Motivasi Jika Naik Otomatis

    Ternyata Mu’ti Khawatir Murid Kehilangan Motivasi Jika Naik Otomatis

    Membaca 15 Menit Sehari Terbukti Tajamkan Daya Ingat, Ini Faktanya

    Membaca 15 Menit Sehari Terbukti Tajamkan Daya Ingat, Ini Faktanya

    Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

    Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi

    Faktanya, Cuma 3 Prinsip Deep Learning dari Mindful hingga Joyful

    Faktanya, Cuma 3 Prinsip Deep Learning dari Mindful hingga Joyful

    Djarum Beasiswa Plus 2026/2027 Resmi Dibuka, Cek Syarat dan Tahapan Seleksinya

    Djarum Beasiswa Plus 2026/2027 Resmi Dibuka, Cek Syarat dan Tahapan Seleksinya