Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

maurozijlstra – Bayangkan melakukan yoga di sebuah tempat yang tenang.

Matahari pagi belum terlalu panas. Air kolam berwarna biru. Musik santai terdengar pelan. Di tengah kolam terdapat sebuah floating board besar.

Anda naik.

Duduk.

Tarik napas.

Semuanya terasa mudah.

Kemudian instruktur meminta berdiri.

Board bergerak sedikit.

Kaki langsung mencari keseimbangan.

Perut otomatis mengencang.

Tangan yang tadinya ingin bergerak anggun malah sibuk menjaga tubuh agar tidak tercebur.

Selamat datang di floating yoga.

Kalau yoga di studio terasa terlalu mainstream, aktivitas yang satu ini menawarkan pengalaman berbeda. Gerakannya memang berasal dari yoga yang sudah kita kenal, tetapi dilakukan di atas board atau mat khusus yang mengapung di permukaan air.

Hasilnya?

Pose yang kelihatannya sederhana mendadak menjadi permainan keseimbangan.

Sedikit salah memindahkan berat badan, board bergeser.

Terlalu cepat berdiri, goyang.

Terlalu percaya diri?

Byur.

Tetapi justru di situlah keseruannya.

Floating yoga menggabungkan elemen yoga dengan tantangan permukaan tidak stabil. Konsep serupa juga ditemukan pada SUP yoga, yakni yoga menggunakan stand-up paddle board.

Bedanya, kalau SUP yoga identik dengan laut, danau, atau perairan terbuka, floating yoga versi fitness atau wellness dapat dilakukan di kolam renang dengan board yang relatif lebih terkendali.

Kelihatannya Instagramable.

Tapi setelah mencobanya, mungkin Anda akan menyadari satu hal.

Foto estetik hanyalah bonus. Menjaga badan tetap berada di atas board adalah tantangan sebenarnya.

Apa Itu Floating Yoga?

Secara sederhana, floating yoga adalah aktivitas yoga yang dilakukan menggunakan platform mengapung.

Platform tersebut bisa berupa floating mat khusus, inflatable board, atau stand-up paddle board.

Peserta melakukan berbagai pose yoga di atasnya.

Mulai dari duduk, kneeling, plank, downward-facing dog, warrior, hingga pose keseimbangan yang lebih kompleks untuk peserta berpengalaman.

Di daratan, lantai tidak bergerak.

Di floating yoga, “lantainya” ikut bereaksi terhadap tubuh kita.

Ketika berat badan berpindah ke kiri, board ikut miring.

Ketika tangan terlalu jauh ke depan, distribusi berat berubah.

Ketika berdiri terlalu cepat, air di bawah board membuat platform bergerak.

Artinya tubuh terus melakukan koreksi kecil.

Kaki, pinggul, perut, punggung, bahu, dan berbagai otot stabilisator harus bekerja sama untuk mempertahankan posisi.

Inilah yang membuat floating yoga terasa berbeda dari kelas yoga biasa.

Gerakannya mungkin familiar.

Lingkungannya tidak.

Jangan Tertukar dengan Aqua Yoga

Floating yoga dan aqua yoga terdengar mirip, tetapi konsepnya berbeda.

Aqua yoga biasanya dilakukan di dalam air. Tubuh peserta berada sebagian di dalam kolam dan air digunakan untuk memberikan buoyancy serta resistance.

Floating yoga dilakukan di atas air.

Tubuh berada di atas board yang mengapung.

Jadi tantangan utamanya bukan bergerak melawan resistance air secara langsung, melainkan mempertahankan posisi tubuh pada permukaan yang tidak sepenuhnya stabil.

Ada juga istilah SUP yoga.

Ini merupakan yoga yang dilakukan menggunakan stand-up paddle board dan sering dilakukan di danau, laut yang tenang, atau perairan terbuka lainnya.

Floating yoga di kolam bisa dianggap sebagai kerabat dekat konsep tersebut.

Dan bagi pemula, kolam renang dapat menjadi lingkungan yang lebih terkontrol dibanding langsung mencoba yoga di tengah danau.

Pose Gampang Mendadak Tidak Gampang

Ini bagian yang menarik.

Coba berdiri tegak di lantai.

Mudah.

Sekarang berdiri dengan satu kaki.

Sedikit lebih sulit.

Kemudian bayangkan melakukan hal yang sama di atas papan yang bergerak setiap kali berat badan berubah.

Permainan langsung berbeda.

Permukaan tidak stabil menuntut tubuh terus melakukan penyesuaian untuk mempertahankan pusat gravitasi.

Itulah alasan seseorang yang sudah cukup percaya diri melakukan yoga di studio belum tentu langsung nyaman melakukan pose yang sama di atas floating board.

Bukan berarti floating yoga otomatis merupakan latihan yang “lebih baik”.

Tantangannya hanya berbeda.

Yoga konvensional memungkinkan peserta lebih fokus pada alignment, rentang gerak, pernapasan, dan transisi tanpa harus terlalu khawatir terhadap platform yang bergerak.

Floating yoga menambahkan satu variabel:

ketidakstabilan.

Dan variabel kecil tersebut bisa mengubah seluruh pengalaman latihan.

Core Mulai Ikut Campur

Begitu board bergerak, tubuh mempunyai dua pilihan.

Menyesuaikan diri atau jatuh.

Di sinilah otot-otot di sekitar batang tubuh ikut berperan.

Core bukan cuma six-pack.

Secara fungsional, berbagai otot di sekitar abdomen, punggung, pinggul, dan pelvis membantu menjaga kestabilan tubuh ketika kita bergerak.

Aktivitas di atas stand-up paddle board memberikan gambaran menarik tentang hal ini.

Sebuah penelitian terhadap peserta yang sebelumnya tidak terlatih menemukan bahwa program SUP selama enam minggu, tiga sesi per minggu, menghasilkan peningkatan signifikan pada sejumlah tes kekuatan core multidirectional. Penelitian tersebut juga menemukan peningkatan pada kapasitas aerobik dan anaerobik serta penilaian kualitas hidup peserta.

Tetapi ada catatan penting.

Penelitian tersebut mempelajari stand-up paddle boarding, bukan floating yoga secara khusus.

Jadi kita tidak boleh langsung mengatakan melakukan floating yoga selama enam minggu pasti memberikan hasil yang sama.

Namun mekanismenya membantu menjelaskan mengapa aktivitas di atas platform mengapung bisa terasa sangat menuntut pada bagian tengah tubuh.

Board bergerak.

Tubuh mengoreksi.

Core bekerja.

Lalu board bergerak lagi.

Tubuh mengoreksi lagi.

Begitu terus.

Floating Yoga dan Keseimbangan

Yoga sendiri sudah lama digunakan sebagai latihan yang melibatkan keseimbangan.

Sebuah studi terhadap 26 atlet pria perguruan tinggi, misalnya, membandingkan kelompok yang menjalani yoga dua kali seminggu selama sepuluh minggu dengan kelompok yang tidak mendapatkan tambahan yoga.

Kelompok yoga menunjukkan peningkatan signifikan pada pengukuran fleksibilitas dan keseimbangan.

Sementara itu, penelitian mengenai peserta SUP juga menemukan hubungan menarik antara olahraga tersebut dengan kontrol postural.

Studi yang membandingkan peserta SUP elite, rekreasional, dan kelompok sedentari menemukan kelompok elite mempunyai kontrol postural statis dan dinamis yang lebih baik. Mereka juga memperlihatkan endurance trunk isometrik yang tinggi.

Sekali lagi, jangan melompat terlalu jauh.

Bukti ilmiah untuk SUP atau yoga secara terpisah jauh lebih banyak dibanding penelitian yang secara khusus menguji floating yoga.

Jadi klaim bahwa floating yoga pasti meningkatkan keseimbangan sekian persen akan terlalu berlebihan.

Yang lebih masuk akal adalah mengatakan bahwa aktivitas tersebut memberikan tantangan keseimbangan tambahan karena dilakukan pada permukaan yang bergerak.

Dan tubuh kita langsung merasakannya.

Tidak perlu menunggu jurnal penelitian keluar untuk mengetahui board sedang bergoyang.

Yoga Bertemu Latihan Neuromotor

Ada alasan mengapa latihan keseimbangan tidak seharusnya dianggap sekadar permainan.

American College of Sports Medicine memasukkan latihan neuromotor seperti balance, agility, dan coordination sebagai bagian dari program kebugaran yang komprehensif. Rekomendasi ACSM juga menempatkannya berdampingan dengan latihan kardiorespirasi, resistance, dan flexibility.

Dalam tren fitness ACSM 2026, kategori Balance, Flow, and Core Strength bahkan berada di posisi kelima.

Kategori tersebut mencakup aktivitas seperti yoga dan Pilates yang menargetkan core stability, muscular endurance, mobility, coordination, serta motor control. ACSM mencatat partisipasi pada yoga, Pilates, dan kelas berbasis mobility meningkat 27 persen antara 2022 dan 2024 dalam data yang mereka gunakan untuk survei tren tersebut.

Floating yoga masuk ke tren wellness yang cukup masuk akal.

Orang tidak hanya mencari olahraga yang membuat berkeringat.

Mereka juga mencari pengalaman.

Ada unsur mindfulness.

Ada tantangan fisik.

Ada lingkungan air.

Dan, tidak bisa dimungkiri, ada visual yang menarik.

Kelihatannya Santai, tetapi Otak Juga Sibuk

Coba lakukan tree pose di lantai sambil memikirkan makan siang.

Mungkin masih bisa.

Sekarang lakukan di atas board mengapung sambil pikiran melayang ke mana-mana.

Tubuh mungkin langsung memberikan peringatan.

Ketika platform tidak stabil, perhatian terhadap posisi tubuh menjadi lebih penting.

Di mana kaki berada?

Apakah berat terlalu banyak di kanan?

Apakah pinggul bergeser?

Apakah bahu terlalu maju?

Apakah board mulai miring?

Kita dipaksa lebih sadar terhadap posisi tubuh.

Dalam ilmu gerak, kemampuan merasakan posisi dan gerakan tubuh berkaitan dengan proprioception.

Floating yoga membuat aspek tersebut terasa sangat nyata.

Anda tidak harus memahami istilah biomekanik untuk merasakannya.

Ketika board miring, otak langsung tahu ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Jatuh Justru Bagian dari Pengalaman

Ini mungkin perbedaan psikologis paling lucu antara floating yoga dan yoga biasa.

Kalau kehilangan keseimbangan di studio, kita biasanya mencoba keras agar tidak jatuh.

Kalau kehilangan keseimbangan di floating yoga?

Kadang akhirnya cuma:

byur.

Lalu naik lagi.

Air mengubah persepsi terhadap kegagalan.

Tercebur memang bisa membuat kaget, tetapi dalam sesi yang dilakukan di lingkungan kolam yang sesuai dan diawasi dengan benar, jatuh ke air bisa menjadi bagian dari pengalaman.

Bahkan kadang justru menjadi bagian paling menyenangkan.

Orang yang tadinya terlalu serius mengejar pose sempurna akhirnya tertawa ketika seluruh kelas tercebur bergantian.

Ada sesuatu yang menyegarkan dari olahraga yang tidak menuntut kita terlihat sempurna sepanjang waktu.

Apakah Floating Yoga Bisa Membakar Kalori?

Bisa saja aktivitas fisik ini meningkatkan pengeluaran energi dibanding duduk santai.

Tetapi jangan terlalu cepat percaya angka seperti “floating yoga membakar 500 kalori per jam” tanpa mengetahui sumbernya.

Kalori yang dibakar selama olahraga dipengaruhi banyak faktor.

Berat badan.

Intensitas.

Durasi.

Jenis gerakan.

Kemampuan peserta.

Seberapa aktif kelas tersebut.

Floating yoga yang sebagian besar terdiri dari breathing, stretching, dan pose santai jelas berbeda dengan kelas yang memasukkan plank, squat, lunge, dan transisi cepat.

Penelitian SUP memang menemukan potensi manfaat aerobik dan anaerobik setelah program latihan enam minggu. Namun SUP melibatkan aktivitas paddling yang tidak otomatis ada dalam floating yoga di kolam.

Jadi kalau tujuan utama Anda adalah membakar kalori sebanyak mungkin, floating yoga belum tentu menjadi pilihan paling efisien.

Tetapi kalau ingin aktivitas yang menggabungkan movement, balance, core challenge, dan pengalaman menyenangkan, ceritanya berbeda.

Apakah Floating Yoga Bisa Menurunkan Berat Badan?

Pertanyaan ini hampir selalu muncul setiap kali ada olahraga baru.

Jawabannya tidak sesederhana “iya”.

Penurunan berat badan dipengaruhi keseimbangan energi dalam jangka panjang serta banyak faktor lain seperti pola makan, aktivitas harian, tidur, kondisi kesehatan, dan konsistensi olahraga.

Satu sesi floating yoga bukan tombol ajaib pembakar lemak.

Tetapi ada sudut pandang lain yang sering dilupakan.

Olahraga yang efektif adalah olahraga yang benar-benar dilakukan secara konsisten.

Kalau seseorang benci treadmill tetapi sangat menikmati floating yoga, aktivitas yang menyenangkan tersebut mungkin membuatnya lebih konsisten bergerak.

Dan konsistensi jauh lebih berguna daripada membeli membership gym lalu datang dua kali.

Apakah Harus Jago Yoga?

Tidak.

Setidaknya bukan berarti Anda harus bisa headstand terlebih dahulu.

Malah untuk kelas pemula, gerakan seharusnya disesuaikan dengan kemampuan peserta.

Biasanya logikanya sederhana.

Mulai dari posisi yang mempunyai pusat gravitasi rendah.

Duduk.

Berlutut.

Four-point position.

Kemudian perlahan naik menuju pose berdiri.

Semakin tinggi pusat gravitasi dan semakin kecil area kontak tubuh dengan board, biasanya semakin besar tantangan keseimbangannya.

Instruktur yang baik tidak seharusnya langsung meminta peserta baru melakukan pose ekstrem hanya demi mendapatkan foto.

Tujuannya bukan membuktikan siapa yang paling jago.

Tujuannya membuat tubuh belajar beradaptasi dengan lingkungan baru secara aman.

Apakah Harus Bisa Berenang?

Nah, ini jauh lebih penting.

Floating yoga dilakukan di atas air.

Artinya kemungkinan jatuh ke air selalu ada.

Kemampuan berenang atau setidaknya kemampuan merasa nyaman di air menjadi pertimbangan keselamatan yang tidak boleh disepelekan.

Kebijakan tiap operator juga bisa berbeda.

Ada kelas yang dilakukan di kolam relatif dangkal.

Ada yang menggunakan area lebih dalam.

Ada yang mensyaratkan kemampuan berenang.

Ada pula aktivitas SUP yoga di perairan terbuka yang memerlukan prosedur keselamatan jauh lebih ketat.

Kalau Anda tidak bisa berenang atau takut air, jangan berpura-pura bisa hanya karena ingin mengikuti teman.

Bicarakan dengan instruktur sebelum kelas.

Tanyakan kedalaman kolam.

Tanyakan prosedur ketika peserta jatuh.

Tanyakan apakah tersedia flotation aid bila diperlukan.

Kelas wellness tetap merupakan aktivitas air.

Keselamatan harus datang sebelum konten Instagram.

Pemula Sebaiknya Jangan Langsung Mengejar Pose Sulit

Ada godaan besar ketika melihat orang lain melakukan warrior III atau headstand di atas floating board.

Kelihatannya keren.

Lalu kita berpikir:

“Kayaknya bisa.”

Padahal kemampuan yoga di darat tidak otomatis berarti tubuh sudah terbiasa dengan board mengapung.

Floating yoga memperkenalkan kondisi baru.

Karena itu masuk akal untuk memulai dengan gerakan sederhana dan mempelajari karakter board terlebih dahulu.

Bagaimana board bereaksi ketika kaki bergeser?

Di mana titik tengahnya?

Seberapa cepat platform kembali stabil?

Bagaimana posisi tangan ketika ingin naik setelah tercebur?

Hal-hal kecil seperti ini justru menjadi fondasi.

Setelah tubuh memahami platform, barulah tantangan bisa ditambah.

Jangan Membandingkan Diri dengan Video Media Sosial

Ini penting.

Floating yoga sangat fotogenik.

Matahari.

Kolam biru.

Pose sempurna.

Board putih.

Langit cerah.

Kemudian kita datang ke kelas pertama dan realitasnya berbeda.

Rambut basah.

Board goyang.

Kaki gemetar.

Baru mencoba berdiri sudah tercebur.

Tidak masalah.

Media sosial memperlihatkan sepersekian detik ketika pose berhasil.

Ia tidak memperlihatkan tujuh kali jatuh sebelum foto tersebut diambil.

Floating yoga bukan kompetisi siapa yang paling cepat menghasilkan pose cantik.

Tubuh setiap orang mempunyai kemampuan keseimbangan, mobilitas, pengalaman, dan kepercayaan diri berbeda.

Nikmati prosesnya.

Kalau bonusnya mendapatkan foto keren, bagus.

Apa yang Sebaiknya Dipakai?

Tidak perlu pakaian yoga mahal.

Yang lebih penting adalah pakaian olahraga yang nyaman bergerak dan tidak menjadi sangat berat ketika terkena air.

Karena kemungkinan tercebur selalu ada, berpakaianlah dengan asumsi Anda akan basah.

Pakaian renang yang nyaman, rash guard, sportswear yang cocok untuk air, atau kombinasi yang direkomendasikan penyelenggara kelas bisa menjadi pilihan.

Untuk aktivitas outdoor, pertimbangan perlindungan dari matahari juga menjadi penting.

Dan satu aturan sederhana:

jangan membawa barang yang tidak rela Anda lihat jatuh ke kolam.

Smartphone, earphone, jam yang tidak tahan air, atau aksesori mudah lepas sebaiknya disimpan di tempat aman.

Board tidak peduli harga gadget Anda.

Yoga Biasa atau Floating Yoga, Mana Lebih Bagus?

Tidak perlu dibuat pertandingan.

Keduanya mempunyai kelebihan berbeda.

Yoga di lantai memberikan lingkungan stabil sehingga peserta dapat berkonsentrasi pada alignment, mobilitas, pernapasan, transisi, dan kualitas pose secara lebih terkontrol.

Floating yoga menambahkan ketidakstabilan dan lingkungan air.

Akibatnya perhatian terhadap balance dan stabilisasi tubuh menjadi lebih besar.

Penelitian yoga sendiri memberikan bukti bahwa latihan teratur dapat membantu aspek fleksibilitas dan keseimbangan. Studi pada atlet perguruan tinggi yang menjalani yoga selama sepuluh minggu adalah salah satu contohnya.

Sementara penelitian SUP menunjukkan aktivitas di atas board memiliki tuntutan core dan keseimbangan yang menarik.

Floating yoga berada di persimpangan dua konsep tersebut.

Tetapi penelitian khusus floating yoga masih jauh lebih terbatas.

Karena itu lebih aman melihatnya sebagai variasi latihan yang menawarkan stimulus dan pengalaman berbeda, bukan pengganti superior untuk semua bentuk yoga lainnya.

Jangan Terjebak Klaim “Lebih Berat Berarti Lebih Baik”

Karena floating yoga terasa lebih sulit, mudah menyimpulkan bahwa olahraga ini otomatis lebih efektif.

Belum tentu.

Ketidakstabilan memang meningkatkan tuntutan keseimbangan.

Tetapi semakin tidak stabil sebuah latihan bukan berarti semakin baik untuk semua tujuan.

Kalau tujuan seseorang adalah mempelajari alignment pose tertentu, platform stabil mungkin justru lebih tepat.

Kalau seseorang sedang membangun kekuatan maksimal, metode resistance training konvensional mungkin jauh lebih spesifik.

Kalau targetnya performa kardiorespirasi, jogging, berenang, bersepeda, atau latihan aerobik lainnya mempunyai bukti yang jauh lebih jelas.

Floating yoga punya tempatnya sendiri.

Tidak perlu dibuat menjadi obat segala penyakit.

Siapa yang Mungkin Menikmati Floating Yoga?

Orang yang sudah bosan dengan rutinitas olahraga yang sama mungkin menyukainya.

Begitu pula orang yang menikmati yoga tetapi ingin tantangan baru.

Ada juga orang yang sebenarnya tidak terlalu tertarik kelas fitness konvensional, tetapi menjadi penasaran karena unsur air dan suasananya.

Dan jangan meremehkan faktor “fun”.

Kita sering membicarakan olahraga seperti obat.

Harus dilakukan.

Harus sekian menit.

Harus sekian repetisi.

Padahal kesenangan adalah alasan yang sangat valid untuk bergerak.

Kalau satu jam floating yoga membuat seseorang tertawa, bergerak, melatih keseimbangan, dan ingin datang lagi minggu depan, itu sudah mempunyai nilai.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?

Tidak semua orang harus langsung naik board.

Orang dengan cedera akut, gangguan keseimbangan tertentu, masalah medis yang dapat meningkatkan risiko kehilangan kesadaran, kondisi yang membuat aktivitas air tidak aman, atau mereka yang sedang dalam proses rehabilitasi sebaiknya mendapatkan saran profesional yang sesuai sebelum mencoba.

Hal yang sama berlaku bagi ibu hamil, terutama kalau belum pernah melakukan aktivitas tersebut sebelumnya atau mempunyai kondisi kehamilan tertentu.

Bukan berarti floating yoga otomatis dilarang.

Kondisinya hanya perlu dinilai secara individual.

Selain itu, instruktur perlu mengetahui kalau peserta mempunyai keterbatasan gerak atau kondisi tertentu.

Jangan menyembunyikannya karena takut dianggap tidak fit.

Instruktur membutuhkan informasi tersebut untuk memberikan modifikasi yang tepat.

Kenapa Floating Yoga Terasa Lebih Seru daripada Olahraga Biasa?

Karena ada unsur permainan.

Gym bisa sangat terprediksi.

Angkat.

Turunkan.

Istirahat.

Ulangi.

Floating yoga mempunyai sesuatu yang sulit diprediksi.

Air bergerak.

Board merespons.

Teman sebelah tercebur dan menciptakan gelombang kecil.

Board kita ikut bergoyang.

Kita mencoba bertahan.

Gagal.

Ikut tercebur.

Tertawa.

Naik lagi.

Tubuh tetap bekerja, tetapi suasananya tidak selalu terasa seperti “sedang latihan”.

Dan mungkin justru itulah kekuatan terbesar floating yoga.

Tren Fitness Sekarang Memang Bergerak ke Pengalaman

Dunia kebugaran berubah.

Orang tidak lagi hanya mencari alat yang paling berat atau olahraga yang menghasilkan keringat paling banyak.

Ada peningkatan perhatian terhadap mobility, balance, mindfulness, recovery, dan aktivitas mind-body.

Survei tren ACSM untuk 2026 menempatkan kategori Balance, Flow, and Core Strength di lima besar tren kebugaran. Kategori ini secara eksplisit memasukkan yoga, Pilates, dan aktivitas sejenis yang berfokus pada stabilitas, mobilitas, koordinasi, serta kontrol motorik.

Floating yoga cocok dengan perubahan tersebut.

Ia menawarkan olahraga sekaligus pengalaman.

Ada tantangan.

Ada relaksasi.

Ada air.

Ada interaksi sosial.

Ada sesuatu yang bisa dipelajari.

Dan tentu saja, ada kemungkinan tercebur.

Jangan Datang dengan Target Harus Sempurna

Kalau suatu hari mencoba floating yoga, mungkin pendekatan terbaik bukan datang dengan target harus berhasil melakukan semua pose.

Datanglah dengan rasa penasaran.

Rasakan bagaimana board bergerak.

Pelajari bagaimana tubuh bereaksi.

Cari pusat keseimbangan.

Tarik napas.

Coba pose.

Goyang.

Perbaiki.

Kalau jatuh?

Naik lagi.

Floating yoga justru menjadi menarik karena kita tidak sepenuhnya memegang kendali terhadap permukaan tempat berdiri.

Ada air di bawah kita.

Ada board yang bergerak.

Dan tubuh harus terus beradaptasi.

Kelihatannya Cuma Yoga di Kolam, Sampai Anda Mencoba Berdiri

Dari pinggir kolam, floating yoga memang terlihat mudah.

Orang duduk di atas board.

Tarik napas.

Angkat tangan.

Pose.

Foto.

Selesai.

Kemudian kita naik sendiri dan menyadari bahwa board tersebut mempunyai pendapat lain.

Gerakan kecil menjadi penting.

Distribusi berat terasa jelas.

Core bekerja tanpa diminta.

Keseimbangan diuji.

Fokus tidak boleh terlalu lama pergi ke mana-mana.

Di situlah daya tarik floating yoga.

Ia mengambil sesuatu yang familiar, yaitu yoga, lalu mengubah lingkungannya.

Hasilnya bukan sekadar yoga yang dipindahkan dari studio ke kolam renang.

Sensasinya berubah.

Tantangannya berubah.

Dan cara tubuh merespons pun ikut berubah.

Bukti ilmiah yang tersedia memang jauh lebih kuat untuk yoga dan stand-up paddle boarding secara terpisah daripada floating yoga sebagai satu aktivitas spesifik. Karena itu klaim manfaatnya tetap harus realistis.

Tetapi satu hal tidak membutuhkan penelitian rumit untuk dipahami.

Berdiri di lantai yang diam dan berdiri di board yang mengapung jelas bukan tantangan yang sama.

Jadi kalau downward dog di studio sudah mulai terasa terlalu biasa, mungkin suatu hari Anda bisa mencobanya di atas kolam.

Hanya saja jangan terlalu percaya diri.

Sebab di floating yoga, jarak antara pose Instagramable dan tercebur kadang cuma satu goyangan kecil.

Referensi

Polsgrove, M. J., Eggleston, B. M., & Lockyer, R. J. “Impact of 10-weeks of yoga practice on flexibility and balance of college athletes.” International Journal of Yoga, 2016.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4728955/

PubMed, “Impact of 10-weeks of yoga practice on flexibility and balance of college athletes.” PMID: 26865768.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26865768/

Schram, B., Hing, W., Climstein, M., et al. “The physiological, musculoskeletal and psychological effects of stand up paddle boarding.” BMC Sports Science, Medicine and Rehabilitation, 2016.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5057214/

PubMed, “The physiological, musculoskeletal and psychological effects of stand up paddle boarding.” PMID: 27766157.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27766157/

Schram, B., Hing, W., & Climstein, M. “Profiling the sport of stand-up paddle boarding.” Journal of Sports Sciences, 2016.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26289320/

Garber, C. E., Blissmer, B., Deschenes, M. R., et al. “American College of Sports Medicine position stand: Quantity and quality of exercise for developing and maintaining cardiorespiratory, musculoskeletal, and neuromotor fitness in apparently healthy adults.” Medicine & Science in Sports & Exercise, 2011.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21694556/

American College of Sports Medicine, “ACSM Fitness Trends: Balance, Flow, and Core Strength,” diakses September 2026.
https://acsm.org/education-resources/trending-topics-resources/acsm-fitness-trends/

  • Related Posts

    Shin Tae-yong Angkat Bicara Usai Diberhentikan PSSI Penantian Pernyataan Resmi

    MAUROZIJLSTRA.COM – Pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Shin Tae-yong, akhirnya memberikan salah satu pernyataan pertamanya usai kabar pemberhentiannya oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada Senin (6/1/2025). Hingga kini,…

    Manchester United Dibantai Bournemouth 0-3 di Old Trafford: Krisis Tak Berujung?

    MAUROZIJLSTRA.COM – Bournemouth, yang datang sebagai tim tamu, langsung memberikan tekanan sejak awal pertandingan. Mereka berhasil membuka keunggulan pada menit ke-14 melalui gol dari Dominic Solanke, yang memanfaatkan kesalahan lini…

    You Missed

    Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

    Floating Yoga: Yoga di Atas Kolam Renang yang Kelihatannya Santai, Ternyata Bikin Otot Kerja Ekstra

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi

    Ternyata, Perpustakaan Sekolah Jadi Kunci Tingkatkan Budaya Literasi

    Faktanya, Cuma 3 Prinsip Deep Learning dari Mindful hingga Joyful

    Faktanya, Cuma 3 Prinsip Deep Learning dari Mindful hingga Joyful

    Djarum Beasiswa Plus 2026/2027 Resmi Dibuka, Cek Syarat dan Tahapan Seleksinya

    Djarum Beasiswa Plus 2026/2027 Resmi Dibuka, Cek Syarat dan Tahapan Seleksinya

    Ternyata Growth Mindset Cuma Butuh 5 Kebiasaan Kecil Ini Tiap Hari

    Ternyata Growth Mindset Cuma Butuh 5 Kebiasaan Kecil Ini Tiap Hari

    93 Persen Gen Z Ambisius Kembangkan Diri demi Produktivitas

    93 Persen Gen Z Ambisius Kembangkan Diri demi Produktivitas